I was a little surprised couple days ago, when my little sist said, “This is what you looks like, mbak (old sist in Javanase)….” And she was acting in front of my desk, wearing my earphone, singing something unclearly, while her fingers were moving like someone did typing. Besides, he added some gesture when her hand rose up my glass, pretend drinking what’s in that empty glass, in the mids of her song. I laughed out loud immediately! Ouh, shit. That was exactly like me when I was busy with my comp. She immitated it perfectly! And that was really stabbed me down.
“If you really like a girl, it is impossible to see her marry to another guy and still bless them. But I am wrong. In fact, when you really like a girl, you'd be happy for her, when you see her finding her Mr. Right. You will want them to be together, and to live happily ever after.”
| You Are The Apple of My Eye |
Melabeli diri sebagai penggemar rahasia,
atas semua torehan tangan, coretan pensil dan pena, sumpah serapah, wejangan penuh faedah, sinar mata, impian, kreativitas, radikalisme, ideologi, gurauan konyol, guratan amarah, celetukan jenius, imajinasi tanpa batas, omelan pedas, seringai tawa, ego, keangkuhan, ketidakacuhan, dan kebodohan,
yang mulai terpatri di bilik kecil syaraf otak, hasil rekonsiliasi reseptor dan impuls-impuls bermuatan listrik.
Senti demi senti, mereka mendetailkan rupa melalui berbagai insiden bersetting rencana yang kebetulan.
Lalu semakin dalam dan mulai memahami bagaimana ia digabungkan menjadi mahakarya untuk dikagumi.
Tiba-tiba jadilah satu di antara seribu penguntit setia.
Ketukan pintu yang diredam ketukan lain, menyamarkan suaranya.
Hingga aku mulai haus oleh semua yang tercipta melalui setiap partikel dirinya.
atas semua torehan tangan, coretan pensil dan pena, sumpah serapah, wejangan penuh faedah, sinar mata, impian, kreativitas, radikalisme, ideologi, gurauan konyol, guratan amarah, celetukan jenius, imajinasi tanpa batas, omelan pedas, seringai tawa, ego, keangkuhan, ketidakacuhan, dan kebodohan,
yang mulai terpatri di bilik kecil syaraf otak, hasil rekonsiliasi reseptor dan impuls-impuls bermuatan listrik.
Senti demi senti, mereka mendetailkan rupa melalui berbagai insiden bersetting rencana yang kebetulan.
Lalu semakin dalam dan mulai memahami bagaimana ia digabungkan menjadi mahakarya untuk dikagumi.
Tiba-tiba jadilah satu di antara seribu penguntit setia.
Ketukan pintu yang diredam ketukan lain, menyamarkan suaranya.
Hingga aku mulai haus oleh semua yang tercipta melalui setiap partikel dirinya.
Waktu
berjalan maju, membawaku ikut maju.
Jadi sebenarnya, selama ini aku tak pernah ke mana-mana.
Tapi aku
tidak berjalan maju menuju masa depan.
Aku
melangkah maju, menuju pulang.
Aku tidak
melangkah yang membuatku jauh dari rumah.
Aku
melangkah menuju rumah itu sendiri.
Aku
berjalan maju menuju pulang.
Jadi sebenarnya, selama ini aku tak pernah ke mana-mana.
Karena ke
mana pun aku melangkah, lintasanku tetap melingkar.
Memutar,
untuk kembali ke titik di mana aku berasal.
Dan sebesar
apa pun keinginanku untuk jauh dari rumah,
semakin aku
dekat padanya.
Karena
sebenarnya, aku tak pernah berangkat.
Dari dulu,
aku hanya pulang,
atau
berangkat menuju pulang.
Semenjak
tarianmu membawa oksigen baru bagiku, aku bisa hidup. Kamu menari dengan
sepuluh kaki yang ada di tanganmu. Itu indah. Tarianmu membawamu menjelajah
pelosok dunia mana pun yang kau suka, termasuk pelosok tergelap yang pernah
ada, hatiku. Melengganglah sepuasmu di atas panggung mana pun, selama itu bisa menghubungkanku
denganmu. Supaya aku tetap bisa menyaksikanmu, sejauh apa pun kau dan aku
terpaut.
Tarianmu membuatku seperti sudah lama mengenal dirimu. Hanya aku. Kau tidak. Kau tak mengenalku. Aku adalah orang asing di ambang pintu rumahmu yang terbuka lebar bagi siapa pun. Jangan sebut aku tamu, karena tamu datang untuk bertamu. Sedangkan aku datang tidak untuk bertamu, melainkan untuk menikmati rumahmu. Tempatmu menari. Tarian yang membuatku merasa kita begitu dekat. Tarian yang membuatku merasa hidup.
Tarianmu membuatku seperti sudah lama mengenal dirimu. Hanya aku. Kau tidak. Kau tak mengenalku. Aku adalah orang asing di ambang pintu rumahmu yang terbuka lebar bagi siapa pun. Jangan sebut aku tamu, karena tamu datang untuk bertamu. Sedangkan aku datang tidak untuk bertamu, melainkan untuk menikmati rumahmu. Tempatmu menari. Tarian yang membuatku merasa kita begitu dekat. Tarian yang membuatku merasa hidup.
Hari ini
kau sudi mengintipkanku, barang sedikit, kedok aslimu.
Mimik imut yang menunjukkanmu lucu, bahwa kau tak segarang itu.
Hari ini
kau mau mencurikanku momen langka, barang sedetik di bawah terik Minggu.
Aku tidak
salah, ada kapuk di balik kerasnya tempurung randu.
Ada daging
lembut di bawah tajamnya kulit durian jatuh.
Aku tahu,
hatimu tak sekeras itu.
Kau punya
canda segar tertutup keseriusanmu.
Mimik imut yang menunjukkanmu lucu, bahwa kau tak segarang itu.
Kamu asyik,
bila otot tegang di wajahmu sedikit kau kendur.
Hanya saja…
mungkin kamu terlalu eksklusif untuk terlalu menjadi dirimu.
Hingga mau
tak mau, kami yang kau suruh penasaran dulu untuk tahu.
Jebakan
cerdikmu.
Sayangnya,
memang tidak mungkin semudah itu.
Aku masuk
jebakanmu, tapi kamu terlalu pelit untuk membuka pintu.
Hanya sebuah
jendela rapuh.
Tapi bahkan
jika memang itu, aku sanggup memandang jendelamu selama apa pun.
Karena kamu
terlalu berharga untuk diekspose lebih jauh.
Karena kamu
terlalu penting untuk dipublikasi umum.
Biarlah,
biar hanya aku yang pernah merekam momenmu.
Biar hanya
aku yang tak menyerah memujamu.
Teruslah
bercumbu dengan kanvasmu.
Sambil
meramu semua indera tubuh.
Mau kaku,
angkuh, rikuh, atau keukeuh.
Aku tetap
memujamu dengan seluruh imajiku.
Biar pun bias
atau ragu, biar pun berkungkung peluru.
Pasti kita
berpagar tabu, berdinding suku.
Juga
ketidakmauanku berpamer kalbu.
Beri saja
aku punggungmu, itu lebih dari cukup.
Seribu
langkah menjauhmu, itu alasanku melangkah maju.
Atau
mundur, atau diam di tempatmu.
Memujamu,
mengikuti setiap gerakmu.
Selintas lalu
di bawah terik itu, memaku rindu.
Menjelma
sebanyak bintang bertemu untuk selalu mengenangmu.
Untuk dirimu, yang mulai menjelma kabut
Untuk apa ia datang lagi kalau hanya untuk hilang lagi?
Halimun
menghapus jalan dan pohon yang diembuni
Mengaburkan
pandang
Aku
bertanya-tanya, mengapa halimun ini begitu membingungkan
Ia akan
menghilang perlahan, tanpa identitas dan pretensi
Kecuali
detik yang temporer
Sebelum ia
muncul kembali
Dan ke
manakah ia bersembunyi siang ini?
Untuk apa ia datang lagi kalau hanya untuk hilang lagi?
Halimun
menyebalkan ini
Tanganku
menggapai-gapai
Tapi yang
kurasakan betapa fana sebuah eksistensi
Semua ganjil
Sebelum aku
menyadari bahwa akulah kabut itu
Akulah yang
perlahan menghilang dan asing pada diriku sendiri
Akulah yang
sembunyi kapan pun mentari menampakkan kaki
Bahkan tak
ada alasan yang mumpuni untuk memperjelas semua ini
Halimun
yang sulit dimengerti
Menjadi
penghalang bagi dirinya sendiri